SEMARANG – Semarang dikenal sebagai kota kuliner. Ada beragam menu makanan dan minuman khas dari ibu kota Jateng ini. Tidak terkecuali ayam tulang lunak Kraton. Uniknya, merek tersebut merupakan produsen ayam tulang lunak bermerek pertama di Indonesia, yang terdaftar dan dilindungi oleh Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham sejak 1998. Prestasi tersebut pun mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid).

“Ayam tulang lunak Kraton menjadi salah satu kuliner sekaligus oleh-oleh khas Semarang. Saat kita telurusi ternyata, merek Kraton ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Dari hasil penelitian kita, Kraton menjadi produsen ayam tulang lunak bermerek pertama di Indonesia yang terdaftar di Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham,” papar Ketua Umum dan pendiri Leprid Paulus Pangka, disela penyerahan penghargaan di toko oleh-oleh tersebut, Jalan KH Wahid Hasyim, Kranggan, Semarang, Selasa (13/11).

Pihaknya mengapresiasi prestasi tersebut, sebab tidak hanya sekedar rekor superlatif namun lebih ke penemuan atau talent pribadi. “Harapan kedepan resep ayam tulang lunak Kraton ini,dapat tetap terjaga kelestariannya secara turun temurun, semakin berkembang, dan menjadi kebanggan kota Semarang. Sekaligus lebih dikenal sebagai merek asli masyarakat Indonesia. Tidak lupa, menjadi ikon kuliner dan oleh-oleh khas Semarang,” tandas Paulus.

Sementara, Maria Lindawati Atmodjo sebagai generasi kedua pemilik toko oleh-oleh ayam tulang lunak Kraton, menuturkan usaha tersebut sudah dirintis sejak 1986 oleh ibu dan pamannya. “Awalnya kita melihat banyak masyarakat yang gemar makan ayam, baik digoreng atau bakar, sehingga timbul ide untuk membuat ayam tulang lunak. Harapannya, masyarakat bisa menikmati kuliner ini tanpa harus khawatir tertelan tulang-tulangnya,” jelas Linda.

Ide penamaan merek Kraton, berawal dari keinginan sang ibu untuk memberikan kesan bahwa ayam tulang lunak tersebut merupakan makanan tradisional Indonesia. “Keunggulannya, terbuat dari ayam pilihan.Dijamin bebas formalin, sekaligus ayam ini diperoleh langsung dari pemotongan hewan bersertifikat halal. Termasuk bahan dan bumbu-bumbu yang digunakan juga halal, termasuk juru masaknya juga muslim. Jadi tidak ada masalah untuk bisa dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Leprid juga memberikan penghargaan kepada Setyana Tjahjana, sebagai pemilik dan penerima pertama sertifikat perpanjangan jangka waktu perlindungan merek terdaftar, dengan rekor waktu tercepat. Rix

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *