SEMARANG – Asrama mahasiswa merupakan wahana kaderisasi, bukan hanya tempat tidur dan makan. Dari asrama tersebut, diharapkan muncul kader-kader bangsa yang tangguh. Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Diktilitbang Muhammadiyah Prof Lincolin Arsyad MSc PhD,dalam Musyawarah Nasional Asosiasi Pengelola Asrama Muhammadiyah (Aslama) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia di Gets Hotel Semarang, 23-25 November 2018.

“Untuk mencapai tujuan tersebut, pengurus asrama harus menyiapkan kurikulum dan pengelolaan yang baik. Asrama PTMA harus meniru yang baik dari pengelolaan asrama di luar negeri, bisa di booming-kan tagline asrama sebagai tempat penyemaian calon pemimpin-pemimpin bangsa ,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, asrama bisa menjadi ajang untuk pengembangan nilai-nilai positif, termasuk nilai-nilai nasionalisme. Tidak hanya itu, masing-masing asrama juga harus juga memiliki keunikan dan mengembangkan keunikannya terebut sebagai suatu keunggulan.

Rektor Unimus Prof Masrukhi menambahkan bahwa di Unimus, asrama berubah fungsi juga menjadi Pondok Pesantren Putri yang mendidik santriwati di tahun pertama studi. “Ponpes putri atau asrama putri Unimus, bukan hanya sekedar tempat tinggal namun juga sebagai tempat pembinaan nilai keislaman, nasionalisme dan pencapaian prestasi sebaik-baiknya. Pembinaan tersebut meliputi pembiasaan sholat berjamaah, puasa sunah, kajian bahasa Arab, kajian Al-Quran hadis dan minat bakat yang disesuaikan dengan irama perkuliahan,” ungkapnya.

Tercatat pada saat ini, Unimus tengtah merancang pembangunan asrama mahasiswa berdaya tampung 1.200 orang.  Gedung tersebut sudah mulai dibangun pada Januari lalu, akan dikembangkan juga menjadi pesantren. “Harapannya mulai 2019, seluruh mahasiswa baru Unimus bisa tinggal di asrama untuk mendapat pembinaan secara intensif,” tandas Prof Masrukhi.

Hal senada juga disampaikan Direktur Aslama Ghoffir Muhammad SAg MSi, bahwa asrama mahasiswa harus menjadi kawah candradimuka bagi para pemimpin Islam dan pemimpin bangsa masa depan. “Jangan sampai PTM tidak menelurkan para pemimpin masa depan. Mereka di gembleng di asrama, untuk menghasilkan berbagai keunggulan dan kebaikan.  Untuk itu,melalui munas ini,kita akan belajar pengembangan dan penerapan karakter Islam , karakter nasionalisme, melalui pengelolaan asarama,” tambahnya.

Sementara, ketua panitia yang juga Direktur Ponpes Putri Unimus Rohmat Suprapto MSi, menuturkan munas diikuti oleh 57 utusan dari 38 asrama PTMA se-Indonesia. “Delegasi yang hadir terdiri dari Rektor, Wakil Rektor bidang kemahasiswaan, Direktur dan Pembantu Direktur Asrama Mahasiswa PTMA se-Indonesia. Ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam Munas yaitu seminar tentang pengelolaan Rusunawa, paparan Based Practice pengelolaan Rusunawa, sidang komisi dan evaluasi program kerja Aslama 2016-2018, pemilihan kepengurusan baru dan kunjungan ke Ponpes Putri Unimus,” pungkas Rohmat. Rix

FOTO BERSAMA – Ketua Majelis Diktilitbang Muhammadiyah Prof Lincolin Arsyad, didampingi Rektor Unimus Prof Masrukhi beserta jajaran pengurus, berfoto disela Munas Aslama PTMA se-Indonesia di Gets Hotel Semarang, 23-25 November. Foto Arixc Ardana

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *