BERMAIN – Lurah Karangturi Hindun SSos MM, dosen pendamping KKN, Ikhwanudin ST MT dan mahasiwa KKN UPGRIS, saat memperkenalkan permainan tradisional dalam Dokar Bobo di kelurahan tersebut, Rabu (6/2). Foto Arixc Ardana

KARANGTURI – Seiring dengan perkembangan teknologi, dengan menawarkan beragam permainan modern, kini para generasi muda, khususnya anak-anak generasi Z sudah tidak mengenal berbagai permainan tradisional. Padahal, beragam permainan tradisional tersebut, tidak hanya menawarkan kegembiraan dalam permainan namun juga nilai-nilai luhur dan karakter bagi anak.

Hal tersebut mendorong mahasiswa KKN UPGRIS di Kelurahan Karangturi menggelar kegiatan Dokar Bobo atau Dolanan Karo Bocah-bocah, dengan memperkenalkan beragam permainan tradisional yang ada.

“Saat ini, anak-anak lebih senang bermain gadget, sehingga anak zaman sekarang tidak mengenal sosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Hal ini mempengaruhi kecerdasan dan kesehatan anak dalam berbagai hal. Seperti sering menggunakan gadget, kesehatan mata anak terganggu, kurangnya sosialisasi, dan lain-lainnya,” papar Koordinator Kelurahan KKN Septio Oggy Pradana, disela kegiatan.

Beberapa dolanan anak yang dikemas dalam Dokar Bobo tersebut digunakan untuk mengajarkan ketrampilan, kerjasama tim, serta ketangkasan yang saat ini mulai punah. Permainan tradisional yang dimainkan adalah cublak-cublek suweng, dakonan, bitingan, dan suruhan.

“Dolanan anak ini hampir punah, karena anak-anak lebih sering bermain gadget. Padahal dalam dolanan anak mengajarkan anak-anak untuk melatih keterampilan, kerjasama, kerukunan hingga ketangkasan,” lanjutnya.

Tidak hanya anak, para guru PAUD yang ada juga diajak untuk ikut serta, dengan harapan nantinya mereka akan melanjutkan program tersebut. “Anak cenderung menciptakan dunianya sendiri dan menikmatinya seorang diri sehingga semakin berjarak dari dunia nyata. Karena itu, peran guru khususnya pengajar anak usia dini juga sangat penting untuk kembali mengenalkan permainan tradisional,” tambah dosen pendamping KKN, Ikhwanudin ST MT.

Dalam permainan tradisional ada yang mengharuskan pemainnya berkelompok, dan ini tentunya meningkatkan kemampuan kerja sama tim. Lebih jauh dipaparkan, anak lebih leluasa berkomunikasi dengan lingkungannya. Apalagi permainan ini dilakukan secara tatap muka, sehingga komunikasi yang dialami anak lebih berarti dibanding hanya lewat dunia maya.

Sementara Lurah Karangturi Hindun SSos MM mengapresiasi positif beragam kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN UPGRIS. Tidak hanya dibidang pendidikan, namun juga di bidang kewirausahaan, kesehatan dan lingkungan. “Kami berharap dengan adanya mahasiswa KKN ini, dapat meningkatkan edukasi masyarakat diberbagai sektor, sehingga mampu menambah wawasan sekaligus dapat dimanfaatkan untuk lingkungan sekitar,” pungkasnya. R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *