MENUNJUKKAN –Dosen UPGRIS Maria Ulfah SSi MPd, bersama mahasiswa KKN dan peserta menunjukkan hasil modul ecobrick, saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Ecobrick yang digelar di Kelurahan Rejosari Semarang, Sabtu (9/2). Foto Arixc Ardana

REJOSARI – Sampah plastik menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat. Tidak jarang, tumpukan sampah tersebut justru menimbulkan bencana banjir saat hujan melanda. Hal tersebut mendorong mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di Kelurahan Rejosari Semarang, menggelar pelatihan ecobrick.

“Penggunaan plastik di lingkungan masyarakat sangat tinggi, sehingga menghasilkan sampah plastik yang tidak kalah banyak. Belum lagi, pemusnahan plastik dengan cara dibakar hanya akan mempurburuk kesehatan karena zat dioksi yang dihasilkannya. Maka, prinsip 3R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (Menggunakan kembali), dan Recycle (Mendaur ulang),selayaknya kita terapkan dalam mengatasi sampah plastik, dengan cara simpel namun efektif, yaitu Ecobrick,” papar dosen UPGRIS Maria Ulfah SSi MPd, saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Ecobrick yang digelar di Kelurahan Rejosari Semarang, Sabtu (9/2).

Diterangkan, ecobrick adalah metode untuk meminimalisir sampah dengan media botol plastik , yang diisi penuh dengan sampah anorganik hingga benar-benar keras dan padat. Tujuannya untuk mengurangi sampah plastik, serta mendaur ulangnya dengan media botol plastik, untuk dijadikan sesuatu yang berguna. Contoh pemanfaatannya adalah untuk pembuatan meja, kursi, tembok, maupun barang kesenian lainnya yang bahkan memiliki nilai jual. Metode ini terbukti mengurangi jumlah sampah plastik.

“Cara pembuatannya sangat mudah, botol plastik kita isi dengan sampah plastik lainnya. Kemudian dimampatkan dengan bantuan tongkat kayu atau bambu. Ada hitungannya, antara volume botol dan berat isi sampah yang dimasukkan,” tandasnya.

Ketua Panitia yang juga mahasiswa KKN UPGRIS Muhammad Bahrul Ulum menambahkan, pelatihan tersebut diikuti perwakilan dari masing-masing RW yang ada di kelurahan Rejosari Semarang.

“Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat lebih peduli lingkungan dan aksi pemanfaatan limbah plastik. Dengan melihat kegunaan ecobrick yang bisa digunakan sebagai pengganti batu bata maupun furniture, membuat warga menjadi tertarik membuat ecobrick dengan harapan dapat mengahasilkan lebih banyak produk dari ecobrick,” terangnya.

Tidak hanya itu, pelatihan tersebut diharapkan mampu memberdayakan masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Mengingat masalah sampah khususnya plastik terus ada dan harus ditangani.

Masyarakat sangat antusias terhadap pelaksanaan pelatihan tersebut dengan mendengarkan penyampaian materi yang disampaikan. Hal ini terlihat dari beberapa pertanyaan yang diajukan masyarakat mengenai limbah plastik. Pelatihan dilaksanakan sekitar tiga jam yang berisikan penyampaian materi pada satu jam pertama yang kemudian dilanjut dengan peserta membuat ecobrick, sehingga menghasilkan produk ecobrick berupa modul yang dijadikan sebagai kursi. Rix

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *