MEMAPARKAN – Pemateri sekaligus dosen Teknik Mesin UPGRIS Yuris SPd MT, saat memaparkan materi dalam pelatihan Implementasi Teknologi 3D Printer sebagai Penunjang Kerajinan Eceng Gondok dan Strategi Online Marketing di Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang, kemarin. Foto dok

BANYUBIRU – Pengrajin eceng gondok di wilayah Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang, sejauh ini masih menggunakan cara sederhana dalam melakukan produksi. Mereka belum mengenal penerapan teknologi tepat guna, dalam membuat produk kerajinan eceng gondok. Persoalannya lainnya, para pengerajin juga belum menerapkan manajemen usaha yang tepat dan rapi. Hasilnya, ragam produk pun kurang bervariasi, serta pemasaran yang masih terbatas.

Hal tersebut mendorong tim KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru, menggelar pelatihan Implementasi Teknologi 3D Printer sebagai Penunjang Kerajinan Eceng Gondok dan Strategi Online Marketing.Kegiatan pelatihan ini dihadiri oleh perangkat desa, pelaku UMKM kerajinan eceng gondok dan ibu-ibu PKK.

“Saat ini perkembangan teknologi digital sangat cepat, salah satunya dengan adanya 3D Printer sangat memudahkan pengrajin eceng gondok, dalam membuat sebuah produk kerajinan secara digital dan diaplikasikan atau dicetak 3 dimensi, sehingga bisa menjadi beraneka bentuk produk,” papar ketua panitia sekaligus mahasiswa KKN UPGRIS Ardiyan Nugraha, disela kegiatan, kemarin.

Tidak hanya itu, dengan ada pelatihan tersebut diharapkan menghasilkan produk yang tepat sasaran dan tepat guna. “Dengan demikian sangat diperlukan manajemen usaha yang tepat pula. Manajemen usaha yang dilakukan pengrajin selama ini masih sederhana, seputar pemasaran dan penjualan. Pemasaran hasil kerajinan eceng gondok masih bersifat menunggu pemesanan, dijual pada masyarakat sekitar dan belum ada pemasaran secara luas, oleh karena itu alangkah baiknya jika dapat memperluas wilayah pemasarannya melalui website, facebook atau media online lain,” tambahnya.

Untuk meningkatkan produksi dan pemasaran, juga dibutuhkan wawasan dan pengetahuan mengenai strategi pemasaran dan produksi yang tepat. Tujuannya, agar dapat meningkatkan produksi dan memperluas pemasaran. “Ini yang mendorong kita, untuk memberikan edukasi teknologi penerapan 3D Printer agar memudahkan pengrajin eceng gondok dalam memenuhi permintaan konsumen,” tandas Ardiyan.

Sementara, pemateri sekaligus dosen Teknik Mesin UPGRIS Yuris SPd MT, menuturkan tentang cara pembuatan suatu produk dengan 3D Printing. Termasuk juga memaparkan tentang strategi berjualan dengan online marketing.

Apresiasi positif disampaikan Sekretaris Desa Rowoboni, Hardono. Dijelaskan, dengan pelatihan tersebut mampu meningkatkan pengetahuan, sekaligus ilmu inovasi baru bagi para pengrajin enceng gondok. “Terimakasih untuk mahasiswa KKN UPGRIS, yang telah menyelenggarakan kegiatan pelatihan ini kepada kami. Semoga ilmu yang diberikan oleh narasumber bermanfaat bagi kita semua,”pungkasnya. Rix

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *