MEMBUAT – Mustamimin, warga Kranggan Dalam, RW 1/2 Kelurahan Kranggan Semarang Tengah tersebut dengan cekatan membuat kulit lumpia, di rumah produksi miliknya, Rabu (27/2). Foto Arixc Ardana

SEMARANG – Siang menjelang sore, kesibukan masih terlihat di Kranggan Dalam, RW 1/2 Kelurahan Kranggan Semarang Tengah. Di kampung yang dikenal sebagai sentra pembuatan kulit lumpia tersebut, sejumlah pekerja masih sibuk menyelesaikan pesanan kulit lumpia.

Salah satunya, Mustamimin, dengan cekatan tangan pria 45 tahun tersebut mencelupkan adonan kulit lumpia ke dalam wajan panas. Hanya dalam hitungan detik, hasilnya pun didapat. Kulit lumpia kering dengan warna sedikit kecokelatan.

Dalam sehari, jika pesanan tinggi tidak kurang 3 karung bahan atau sekitar 60 kilogram, dihabiskan untuk membuat kulit lumpia. “Rata-rata dalam sehari bisa satu karung, hasilnya sekitar 1400 lembar kulit lumpia. Pemasarannya tidak hanya di Semarang saja, namun juga sejumlah daerah ,seperti Bali hingga Kalimantan,” paparnya, saat ditemui dirumah produksi miliknya, Rabu (27/2).

MEMILAH – Warga Kranggan Dalam, RW 1/2 Kelurahan Kranggan Semarang Tengah tengah memilih kulit lumpia sebelum dikemas, untuk dijual, Rabu (27/2). foto Arixc Ardana

Uniknya dalam pembuatan kulit lumpia tersebut, tidak menggunakan minyak goreng, namun justru air yang disemprotkan ke wajan. Tujuannya untuk menghilangkan sisa adonan yang tersisa.

“Pakai air, tidak pakai minyak sebab dalam adonan sudah ada minyaknya, yang dicampur dengan tepung dan garam. Hasil produksi kulit lumpia di kampung Kranggan ini berbeda, lebih bagus kualitasya. Tidak mudah sobek, dan tahan lama, bisa 3 hari. Kalau di lemari pendingin bisa seminggu,”tandasnya.

Kulit lumpia itu, dijual Rp 20 ribu sampai Rp 45 ribu per bungkusnya yang berisi‎ 100 lembar kulit lumpia.”Ukuran kulit lumpia yang kecil Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Kalau yang besar Rp 40 ribu sampai Rp 45 ribu per 100 lembar,” katanya.

Dipaparkan, dalam mengolah kulit lumpia tersebut. Dirinya mengaku menggunakan Bright Gas, elpiji non subsidi yang berukuran 5,5 kilogram Sebelumnya, sudah beralih dari elpiji subsidi. “Dulu pakainya elpiji 3 kilogram, sekarang pindah ke ukuran 5,5 kilogram. Setelah ada program dari Pertamina. Hasilnya gas satu tabung itu, bisa digunakan untuk memasak kulit lumpia hingga 1,5 karung,” kata dia.

MEMASAK – Usaha pengolahan kulit lumpia sudah menjadi usaha turun temurun di kampung Kranggan Dalam, RW 1/2 Kelurahan Kranggan Semarang Tengah, Rabu (27/2). foto Arixc Ardana

PT Pertamina MOR IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta menggarap Kampung Bright Gas, untuk mendukung kampung tematik yang tengah diwujudkan Pemerintah Kota Semarang. Kampung Bright Gas tersebut, merupakan sentra pembuatan kulit lumpia yang berada di Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang .

Unit Manager Communication & Relation Pertamina MOR IV, Andar Titi Lestari  menuturkan, sejumlah upaya PT Pertamina untuk mengembangkan kampung tersebut dengan menciptakan ruang publik berupa taman yang ramah anak, merenovasi tempat usaha‎, dan pemugaran gapura desa.

“Diresmikannya kampung tersebut diharapkan juga diikuti masyarakat, untuk menggunakan elpiji non subsidi. Kampung Kranggan dipilih Pertamina karena merupakan sentra produksi bahan makanan khas Kota Semarang yakni Lumpia.Latar belakang pemilihannya karena di sentra makanan khas Semarang, dan bisa menjadi ikon wisata di semarang,” pungkasnya. Rix

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *