WONOSOBO – Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah didominasi sektor perdagangan dan jasa, termasuk didalamnya pariwisata. Selain berkontribusi sebagai penyumbang PDB, sektor pariwisata juga berperan sebagai penghasil devisa dan penyedia lapangan kerja.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jateng, Soekowardojo, disela peresmian kompleks pengolahan sampah terpadu Desa Sembungan Program Pengembangan Ekonomi Lokal (LED) Berbasis Pariwisata di Desa Sembungan, Dieng Plateau, Kabupaten Wonosobo, Sabtu (16/3).

Lebih jauh dipaparkan, secara Nasional sektor pariwisata menyumbang PDB hingga 10%. Melihat kondisi tersebut, Pemerintah tengah gencar mendorong sektor pariwisata sebagai leading sector. Perkembangan pariwisata diharapkan dapat menghasilkan multiplier effect perekonomian bagi masyarakat, yang pada akhirnya dapat mendorong pendapatan Produk Domestik Regional Bruto daerah.

“Desa Sembungan sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa, dengan  ketinggian 2.300 meter diatas permukaan laut (mdpl)dpl, dikelilingi oleh gunung-gunung sehingga berfungsi sebagai daerah tangkapan air, sekaligus memiliki potensi pariwisata alam yang sangat menarik antara lain Golden Sunrise di Bukit Sikunir, Telaga Cebong, Air Terjun Curug Sikarim, dan Bukit Pakuwojo,”lanjutnya.

Disatu sisi, eksploitasi keindahan alam memunculkan sejumlah permasalahan, salah satunya dalam pengelolaan sampah. Mempertimbangkan permasalahan tersebut, langkah awal pengembangan ekonomi lokal yang dilaksanakan oleh BI dimulai dengan program kebersihan. Program ini dilaksanakan bekerjasama dengan Poltekes Kemenkes Yogyakarta, Pokdarwis Cebong Sikunir, dan masyarakat setempat.

“Untuk mendukung dalam mengatasi permasalahan sampah, Bank Indonesia melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) telah membangun Kompleks Pengolahan Sampah Terpadu yang telah selesai dibangun pada Februari 2018. Kompleks Pengolahan Sampah ini, dilengkapi dengan bangunan untuk mengelola sampah organik dan non organik. Tidak hanya itu, melaluii program ini juga dihasilkan biogas yang berasal dari pengolahan limbah carica dan kentang, yang telah dimanfaatkan untuk penerangan dan pelatihan tata boga, serta penghangat ruangan menggunakan gasolex,”tandasnya.

Deputi Gubernur BI, Sugeng mengatakan, kebersihan merupakan syarat utama memajukan pariwisata suatu daerah. Untuk itu, kerja sama dan partisipasi masyarakat merupakan syarat utama. “Kita harus saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, sehingga meningkatkan kenyamanan bagi turis yang datang,” ujarnya.

Ditambahkan, untuk meningkatkan pariwisata di Dieng, ia menyatakan bahwa BI akan terus melaksanakan program di area wisata lokal. “Pengembangan pariwisata tersebut menjadi perhatian khusus Bank Indonesia, mengingat potensi masuknya devisa dari wisatawan asing yang datang ke obyek wisata. Untuk itu, BI akan senantiasa bekerja bersama Pemerintah, masyarakat, dan lembaga lainnya di daerah, untuk mengembangkan pariwisata dan ekonomi lokal,” terangnya.

Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagyo menyampaikan apresiasi atas kontribusi Bank Indonesia, yang mampu membuat perubahan di Dieng. Dengan adanya komplek pengolahan sampah, lingkungan setempat yang sebelumnya penuh sampah kini telah tampak bersih. “Kami menyampaikan terima kasih kepada Bank Indonesia atas kontribusi pengembangan pariwisata melalui berbagai bantuan, terutama adanya komplek pengolahan sampah terpadu ini. Semoga dapat sukses, dijaga baik-baik,” pungkasnya.rix

MENINJAU – Deputi Gubernur BI Sugeng beserta jajaran, saat meninjau kompleks pengolahan sampah terpadu Desa Sembungan Program Pengembangan Ekonomi Lokal (LED) Berbasis Pariwisata di Desa Sembungan, Dieng Plateau, Kabupaten Wonosobo, Sabtu (16/3). Foto Arixc Ardana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *