SEMARANG – Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) Provinsi Jateng,  terus mengalami penurunan yang signifikan setiap tahun. Hal itu tidak terlepas dari sejumlah program kerja dalam menekan angka tersebut.

“AKI di Jateng pada 2013 mencapai 613 kasus. Jumlah itu terus ditekan hingga pada 2018 lalu, tercatat ada 421 kasus. Sementara itu, angka AKB juga terus mengalami penurunan. Di 2016, terjadi kasus angka kematian bayi sebanyak 5.485 kasus. Jumlah itu terus ditekan hingga tahun 2018 jumlah angka kematian bayi menurun hingga angka 4.481 kasus,”papar Kepala Dinas Kesehatan Jateng, dr Yulianto Prabowo saat Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Jateng 2019 di MG Setos Semarang, Senin (25/3).

Lebih lanjut, dipaparkan dari data tersebut menunjukkan terjadi penurunan cukup signifikan dari AKI dan AKB di Jateng, sejak 2013 lalu. Hal ini tidak terlepas dari program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5Ng), yang dicanangkan Pemprov Jateng.

Tidak hanya itu, selain angka kematian ibu dan anak yang menurun, angka harapan hidup warga Jawa Tengah juga mengalami kenaikan. Jika pada 2013, angka harapan hidup masyarakat rata-rata berusia 72,6 tahun, pada 2018 angka harapan hidup itu naik menjadi 74,08 tahun. “Capaian-capaian ini akan terus kami tingkatkan agar semua program kesehatan yang dicanangkan baik di tingkat nasional maupun daerah dapat terwujud,” tandasnya.

Lebih jauh dipaparkan, Rakerkesda 2019 mengusung tema ‘Mbangun Bareng Jawa Tengah: Lebih Sehat, Berdikari, dan Semakin Sejahtera’. Melalui tema tersebut, diharapkan masyarakat tidak hanya menjadi obyek pembangunan kesehatan, melainkan bersama dengan tenaga kesehatan bersinergi, untuk mewujudkan Jateng Sehat.

“Program kesehatan diarahkan untuk meningkatkan Umur Harapan Hidup (UHH).  Untuk mencapai peningkatan UHH, harus didukung oleh Universal Health Coverage (UHC) bahwa semua orang mendapat layanan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, akses financial dan layanan kesehatan yang bermutu. Selain itu, tingginya angka Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia khususnya di Jateng, harus menjadi fokus utama agar rumah sakit atau fasilitas kesehatan memiliki indikator PTM,”tandasnya.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, pihaknya memang fokus terhadap penurunan AKI dan AKB. Selain itu, persoalan stunting dan penyakit tidak menular lainnya juga menjadi garapan serius Ganjar Pranowo. “Dengan capaian ini, maka saya optimis target Sustainable Development Goals (SGDs) yang dicanangkan tahun 2030 akan tercapai, yakni di bawah 70 per 100 ribu kelahiran hidup,” kata dia.

Orang nomor satu di Pemprov Jateng ini juga menekankan, tentang pentingnya melakukan investasi kesehatan sejak dini. Hal itu dapat dilakukan dengan merubah kebijakan kesehatan yang lebih memprioritaskan pada sektor hulu.

“Kalau bicara sektor hilir ya rumah sakit. Jadi orang sakit pasti larinya ke rumah sakit. Padahal ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah orang sakit, misalnya cuci tangan sebelum makan, olahraga teratur, makan buah dan sayur, menjaga kebersihan lingkungan dan sebagainya. Nah ke depan langkah-langkah pencegahan inilah yang harus terus dilakukan,” terangnya. rix

PENGHARGAAN – Gubernur Ganjar Pranowo didampingi Kadinkes Jateng Yulianto Prabowo , usai menyerahkan penghargaan untuk daerah disela Rakerkesda Jateng 2019 di MG Setos, Semarang,  Senin (25/3). foto Arixc Ardana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *