SEMARANG – Perusahaan pengembang masih bersikap wait and see, terkait pembangunan perumahan bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Hal ini terkait keputusan pemerintah, yang akan menaikkan harga rumah subsidi tersebut.

“Saat ini permintaan rumah bersubsidi masih banyak, terutama di daerah yang tengah berkembang seperti sekitar kawasan industri, namun kita masih menunggu dan menunda membangun rumah murah, dengan alasan harga jualnya belum masuk. Jika harga tetap sama, dibandingkan 2018 lalu, tentu memberatkan karena harga tanah atau lahan sudah naik tapi harga rumah belum naik,” papar Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Jawa Tengah MR Prijanto, disela pameran

Saat ini, harga rumah MBR masih dipatok Rp 130 jutaan. Untuk kenaikan diperkirakan akan mencapai Rp 140 jutaan per unit. Kenaikan tersebut lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya atau lebih dari 5%. “Keputusan harga rumah MBR sangat diharapkan developer. Mudah-mudahan di bulan April bisa segera diputuskan,” jelasnya.

Meski demikian, belum diputuskan harga rumah subsidi menjadi kesempatan bagi pengembang yang masih memiliki stok lama untuk segera dijual. Dikatakan, Kota Semarang saat ini sudah tidak ada lagi rumah MBR. Sedangkan di Jateng rumah MBR terdapat cukup banyak di Banyumas, Solo Raya, Kendal, Jepara, dan Boyolali.“Jepara sudah banyak pabrik-pabrik ke sana. Teman-teman pengembang akan bangun ribuan di Jepara dan di Boyolali juga banyak,” tandasnya.

Lebih lanjut Prijanto menjelaskan, untuk lokasi di Jateng yang masih bisa dikembangkan untuk pembangunan rumah subsidi ada di beberapa kabupaten/kota. Misalnya di wilayah Banyumas Raya, Solo Raya dan di Kabupaten Kendal.

“Kalau wilayah Semarang, sudah pasti tidak ada lagi lahan yang bisa dipakai untuk pembangunan rumah bersubsidi. Tapi kalau Kedungsapur, yang cocok ya wilayah Demak atau kendal,” pungkasnya. rix

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *