KANDRI – Ada yang tahu apa itu Ketoprak Truthuk?  Salah satu bentuk kesenian teater tradisi dari Kota Semarang ini, pada awalnya sering ditampilkan oleh masyarakat pada saat bulan purnama. Pada waktu itu, kesenian ini menjadi ajang berinteraksi, dan berekspresi dengan menggunakan media apa adanya baik tempat, busana maupun iringan musiknya.

Di awal keberadaannya, iringan yang digunakan hanya  bunyi-bunyian yang berasal dari bambu yang dipukul atau kentongan. Biasanya tema cerita banyak menceritakan legenda, mitos dan sejarah kerajaan yang ada di Pulau Jawa.

Dalam pementasan, ada penyampain pesan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap cerita yang dimainkannya. Adapun pada perkembangannya  Truthuk  ini  berubah menjadi sebuah seni drama tradisi baik ketoprak, drama, sandiwara dan lain-lain dimana pada kemasannya menjadi lebih sedikit tertata baik dari cara pemerannya medianya maupun iringan musiknya.

Namun seiring waktu, kesenian tersebut mulai ditinggalkan. Hal tersebut mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang menggandeng Komunitas Tirang, mencoba membangktikan dan menghidupkan kembali seni tradisi ketoprak Truthuk yang nyaris mati suri.

“Setelah sekian lama kesenian Truthuk ini jarang dimainkan dan dipentaskan, kita kembali mencoba  mulai menggali dan mengemas kesenian Trutuk ini. Menjadi sebuah seni pertunjukan yang pada konsepnya sedikit berubah dengan mengambil cerita-cerita tentang  kehidupan sosial masyarakat jaman sekarang, atau mengangkat isu-isu yang berkembang di masyarakat,”papar Kasie Atraksi Budaya Disbudpar Kota Semarang Sarosa, disela Pagelaran Ketoprak Truthuk di Obyek Wisata Goa Kreo, Minggu (7/4).

Dalam pentas tersebut, ada sejumlah perubahan yang dilakukan. Misalnya bahan penyampaian pesan moral, dan pengemasannyapun sedikit mengikuti perkembangan. Selain busana, iringan musik juga berubah dengan ditambah instrumen gamelan. Tujuannya untuk menambah harmoni dan irama dalam setiap penggarapannya, tanpa meninggalkan nilai-nilai estetika yang terkandung dalam seni Trutuk.

“Kesemuanya itu mempunyai tujuan yang sama yaitu penyampaian pesan lewat ucapan atau lisan yang dikemas dalam sebuah seni tradisi. Karenanya, program dan kegiatan pengenalan atraksi budaya seni tradisi  ketoprak Truthuk kepada generasi muda harus lebih digencarkan,” tambahnya.

Diakui, jenis kesenian ini juga kurang promosi. Kegiatan pelestarian budaya kepada masyarakat terutama anak muda juga kurang sehingga mereka sama sekali tidak paham apa itu ketoprak Truthuk.

Lebih dari itu, banyaknya budaya luar yang ikut masuk ke dalam seiring dengan arus globalisasi ikut menggerus seni budaya ini. Oleh karenanya, bersama Komunitas Tirang, pihaknya berusaha membangkitkan kembali kesenian yang nyaris punah ini.

“Diharapkan dengan disajikan di obyek wisata dan di akhir pekan dimana tingkat kunjungan wisata tinggi, warga semakin mengerti dan paham. Kan saat akhir pekan seperti ini, Kreo ramai oleh pengunjung. Jadi selain melihat obyek wisata, juga dapat menyaksikan seni tradisi,” pungkas Sarosa. rls

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *