SEMARANG – Wisuda bukan akhir dari sebuah proses pembelajaran, namun menjadi awal perjuangan dan pembelajaran yang sesungguhnya. Khususnya, dengan belajar di tengah masyarakat sebagai kampus abadi.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) Prof Dr Mahmutarom HR SH MH, dalam acara wisuda ke-30 Unwahas di Aula Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Rabu (11/4).

“Lingkungan masyarakat ini merupakan tempat kalian belajar dan mengabdi. Janganlah kesarjanaanmu menjadikanmu menjadi lalai dan sombong. Teruslah belajar, kepada sesepuh, para ulama, kyai, kepada lingkungan di mana kalaian tinggal dan bekerja. Jadilah kalian sebagai murid abadi, yang mampu dan mau belajar kepada siapapun, termasuk kepada alam ciptaan Allah di alam semesta ini,”paparnya dihadapan wisudawan.

Lebih jauh diterangkan, bahwa semua perlu dikaji dan diteliti dengan penuh motivasi dan keimanan, sebagai wujud panggilan suci untuk menggapai keridaan Allah SWT, dan pengabdian kepada bangsa negara, serta kepada umat dan sesama.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Mahmutarom juga berpesan agar para wisudawan meneladani nilai-nilai leluhur. Salah satunya keluhuran dan keutamaan  disampaikan Ki Ageng Selo dalam Serat Pepali, yang meliputi ajaran untuk aja agawe angkuh (jangan bertindak angkuh), aja ladak lan aja jail (jangan bengis dan jahil), aja ati serakah (jangan berhati serakah), aja celimut (jangan panjang tangan atau suka mencuri), aja mburu aleman (jangan mencari pujian), aja ladak; wong ladak pan gelis mati (jangan bengis dan emosian, bisa cepat mati) serta aja ati ngiwa atau jangan condong ke kiri atau kepada kejahatan dan tindakan yang berdosa.

“Ajakan untuk rendah hati, tidak riya dalam pepali tersebut  sebenarnya juga diajarkan oleh Imam Athoillah dalam kitab Al-Hikam, bahwa bahaya sekali orang yang beramal hanya menginginkan kedudukan dan terkenal di masyarakat. Ini karena tujuan amal yang demikian tidak lain atas dorongan hawa nafsu,” tandasnya lagi.

Hanya persoalannya, untuk mencapai tujuan memenangkan dalam jihad akbar ini tidaklah mudah, penuh jebakan dan harus melalui tujuh rintangan, yaitu tujuh lembah kasal (kemalasan), tujuh jurang futur (lemah, tidak bersemangat, apatis dan menjurus pada sifat pesimis), tujuh gurun malal (putus asa seperti orang berjalan di gurun, yang tidak tahu arah, tanpa bekal dan tidak tahu lagi kemana harus melangkah), tujuh gunung riya (suka pamer), tujuh rimba sum’ah (senang dipuji), tujuh samodera ujub (bangga diri, merasa dirinya paling baik, paling sempurna) dan tujuh benteng hajbun (merasa sudah sampai ke tujuan,sehingga tidak perlu lagi berjuang), yang kesemuanya harus dihilangkan agar jalan menuju Allah dapat dicapai.

Sementara, dalam wisuda kali ini diikuiti sebanyak 600 sarjana,  36 Magister dan 76 Profesi Apoteker dan 488 program strata satu. Dari jumlah tersebut, terdapat lulusan dari program beasiswa bidikmisi dan sejumlah mahasiswa asing yang belajar di Unwahas. Rix

FOTO BERSAMA – Rektor Unwahas Prof Dr Mahmutarom HR SH MH (kiri), Ketua Umum Yayasan Wahid Hasyim H Suwanto SE MM (paling kanan) dan perwakilan Lldikti Wilayah 6 Jateng, berfoto bersama wisudawan penerima bidikmisi, dalam acara wisuda ke-30 Unwahas di Aula Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Rabu (11/4). Foto Arixc Ardana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *