SEMARANG – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, bekerjasama dengan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kabupaten Pati, berhasil membongkar jaringan sindikat peredaran narkotika jenis sabu yang dikendalikan seorang narapidana di Lapas Kelas 2 Pati.

“Awalnya, petugas BNNP Jateng mendapatkan informasi adanya peredaran narkotika di wilayah Pati dan Jepara. Kita segera melakukan penyelidikan. Hasilnya didapat, ada sindikat peredaran narkotika jenis sabu yang dikendalikan seorang narapidana di Lapas Kelas 2 Pati,” papar Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Muhamad Nur, disela gelar perkara di kantor BNNP Jateng, Semarang, Jumat (12/4).

Mendapati fakta tersebut, pihaknya langsung berkoordinasi dengan pihak Lapas Kelas 2 Pati, dan segera melakukan penangkapan. Dari keterangan yang diperoleh dari hasil penangkapan napi, didapat informasi adanya pengiriman sabu dari Tegal ke Semarang melalui kereta api.

“Informasi ini kemudian kita kembangkan lagi. Hasilnya tim BNNP Jateng berhasil melakukan penangkapan tersangka di Stasiun Tawang Semarang. Kita mengamankan dua orang kurir berinisial YA warga Kota Tegal dan AF warga Jepara. Dari tangan keduanya, turut disita sabu seberat kurang lebih 100 gram dan rencananya akan diedarkan di wilayah Jepara dan Pati,” tandasnya lagi.

Dijelaskan, awalnya satu orang kurir sabu berangkat dari Tegal naik kereta api, kemudian bertemu dengan kurir lain di Stasiun Tawang. Sementara, narapida yang mengendalikan sindikat tersebut, sebelumnya tercatat warga binaan LP Kedungpane, kemudian dipindah ke LP Pekalongan dan terakhir dipindah ke LP Pati.

Kalapas Kelas 2 Pati Fajar Setiawan menambahkan, pihaknya yang mendapat informasi dari BNNP Jateng segera melakukan pemeriksaan ke seluruh sel napi. Hasilnya, didapatkan barang bukti berupa dua unit handphone di kamar milik Nurkhan.

“Dari pihak BNNP berkoordinasi dengan kita terkait jaringan narkoba, maka kita mengamankan beberapa barang bukti itu. Memang yang bersangkutan pindahan dari Pekalongan, dan belum lama di Lapas Pati,” ujar Fajar.

Dengan adanya kasus itu, jelas Fajar, pihaknya akan berupaya melakukan pemeriksaan dan operasi rutin adanya penggunaan alat komunikasi di dalam lapas. Sehingga, upaya pencegahan zero handphone bisa diwujudkan. rix

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *