SEMARANG – Perkembangan teknologi di era industri saat ini mengalami kemajuan yang pesat. Baru saja tahap Revolusi Indutri 4.0 dihadapi, muncul tantangan baru lagi yakni Revolusi Industri 5.0. 

“Saat ini ada empat gelombang dalam perkembangan dunia. Gelombang pertama, mereka yang menguasai tanah dan lahan, akan mampu menguasai dunia. Di gelombang kedua, penguasa sumber daya alam, bahan mentah serta faktor industri menjadi penguasa,” papar senior lecture School of Social Sciences, Universiti Sains Malaysia, Prof Dr Mohammad Reevany Bustami BA MA PhD, dalam international stadium general ‘Higher Education and Fifth Industrial Revolution Opportunity’ di aula RSGM Unimus, Semarang, Jumat (12/4).

Sementara, pada gelombang ketiga, lanjutnya, mereka yang menguasai informasi akan menjadi penguasa dunia. “Sedangkan sekarang ini, kita sudah mulai memasuki gelombang keempat. Dimana kemajuan teknologi dan agama saling bersinergi. Agama tanpa sains itu pincang, sains tanpa agama itu buta. Ini kalau saya boleh mengutip kata-kata dari ilmuwan Albert Einstein,” paparnya.

Dalam kegiatan yang digagas Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) tersebut, Prof Mohammad menjelaskan, memasuki Revolusi Industri 5.0 terjadi penggabungan antara biologi, teknologi digital, dan spiritual (agama).

Dirinya berkeyakinan bahwa pada Revolusi Industri 5.0, merupakan suatu era yang akan menjadi kekuatan untuk mengubah Nusantara. “Dengan mengembalikan nilai-nilai luhur Nusantara serta kembalinya kebanggaan terhadap identitas Nusantara, dan bangkitnya pemahaman atas spiritual, maka negara-negara di Asia Tenggara dapat bangkit untuk memimpin perkembangan Revolusi Industri 5.0 ,” ungkapnya.

Dekan FMIPA Unimus Dr Eny Winaryati MPd menambahkan, kegiatan International Stadium General tersebut adalah langkah awal antara FMIPA Unimus USM Malaysia. “Semoga lebih intens lagi kedepannya dalam bekerja sama. Tidak hanya untuk dosen saja, akan tetapi juga untuk mahasiswa,” terangnya.

Menurutnya, bekerja sama merupakan bagian dari karakter abad 21 yaitu kolaborasi dan komunikasi. “Maka saya yakin itu akan menjadi bagian yang harus kita laksanakan untuk persiapan menghadapi tantangan di masa yang  akan datang, “ tandasnya.

Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan mahasiswa FMIPA, baik program studi S1-Pendidikan Matematika, S1-Pendidikan Kimia, maupun S1-Statistika. rix

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *